Safari Sejarah kemana aja selama Ramadhan? Ini jawabannya

 


Tidak dapat dipungkiri bahwa peran Raden Rahmat (Ahmad Rahmatullah b. 1401) Sunan Ampel dalam menyebarkan agama Islam di jawa sangat penting. Salah satu peninggalan beliau yaitu Masjid Sunan Ampel yang berdiri 1421 M di Surabaya sebagai pusat tempat Ibadah,  pendidikan para keluarga Kerajaan Majapahit. Salah satunya Raden Fatah Sultan Islam pertama yang berkedudukan di Demak yang merupakan putra Brawijaya V.

Penyebaran Agama Islam di pulau jawa masif, yang ketika itu masih dipenuhi oleh penganut agama hindu, budha, dan kepercayaan tertentu.

Salah satu target Islamisasi yaitu Ponorogo dimana Raden Bathoro Kathong adik dari Raden Fatah Sultan Demak diberi amanah dan tugas didampingi sesepuh Ki Ageng Mirah, Pengawal Pribadi Seloaji, dan 40 Pengikut (Santri). Kehadiran beliau ditandai dengan Masjid/Makam yang sudah ada sejak 1486 M dan dijadikan hari lahir Ponorogo 

Selanjutnya, Salah satu putra keturunan melanjutkan pemerintah dan dakwah sehingga pada tahun 1560 M dibangunlah tatanan kota, pemerintahan baru di barat Bathoro Kathong yang saat ini kita sebut MASJID KOTA LAMA

Selanjutnya,  bahwa sejarah masa kini tidak bisa terlepas dari sejarah masa lalu..

Walaupun secara langsung tidak berlanjut, Masjid Baiturrohman Setono yang berdiri tahun 1600 M merupakan salah satu masjid tertua yang didirikan oleh keturunan dari Sunan Pandan Arang II atau Sunan Tembayat yang makamnya berada di Klaten, Yogyakarta juga merupakan bagian dari Sunan Ampel dan Bathoro Kathong.

Tegalsari merupakan salah satu destinasi wisata Religi yang paling ramai dikunjungi para peziarah terutama malam jum'at, Tegalsari yang didirikan oleh Ki Ageng Hasan Besari 1742 M setelah mendapat tugas dari Gurunya Josari untuk membuka Pondok Pesantren di Wilayah yang disebut Tegalsari. 

Peristiwa penting yang terjadi adalah ketika Pakubuwono II menjadi santri dan banyaknya alumni yang menjadi tokoh sejarah perjuangan bangsa Indonesia. 

Masjid Tegalsari saat ini merupakan Masjid yang telah direnovasi dan didesign sesuai dengan Corak Jawa Mataram karena hubungannya dengan Pakubuwono.

Sehingga, beberapa bagian yang tidak terpakai pada akhirnya dipindahkan ke Coper 1740 M yang merupakan tempat Mbah Moch. Ishag berdakwah dan kemudian di makamkan. Berdasarkan,  sumber K.H. Ahmad Sahal pendiri Pondok Gontor Baru pernah juga ikut dalam renovasi mengangkat tiang tiang penyangga masjid.

Selain itu,  Masjid Agung Ponorogo yang berada tepat di Timur Alun Alun Ponorogo merupakan salah satu masjid yang usianya hampir 2 Abad didirikan 1858 M oleh Raden Mas Adipati Aryo Cokronegoro yang merupakan kakek dari Raden Mas Adipati H.O.S. Cokroaminoto seorang putra yang mendapat julukan Raja Jawa Tanpa Mahkota merupakan keturunan dari dari Tegalsari (Cokroaminoto Bin Cokromiseno Bin Cokronegoro - Ki Ageng Hasan Besari)

Putri Kyai Ageng Hasan Besari  yaitu Nyai Khalifah dan Kyai Khalifah yang juga merupakan Pimpinan Tegalsari Generasi ke enam sekitar pertengahan abad 19 mengalami kemunduran tetapi memiliki satu santri yang unggul yaitu Raden Mas Sulaiman Jamal dari Kasepuhan Cirebon dinikahkan dengan putri dari Kyai Khalifah Tegalsari. 

Kemudian, mendapat amanat dan tugas untuk membuka Pondok Pesantren dengan dibekali 40 Santri yang saat ini disebut sebagai Gontor lama. Menurut sumber lokasi yang ditunjuk ketika itu bukan lokasi yang saat ini menjadi Pondok Gontor. Disisi lain perpaduan bahasa jawa dan sunda sudah mulai ada sejak saat itu.


Kepemimpinan dilanjutkan Putranya yaitu Archam Anom Besari sebagai generasi kedua, pada saat ini lah Gontor lama memiliki banyak santri dari berbagai penjuru daerah. Selanjutnya estafet kepemimpinan diamanahkan kepada Kyai Santoso Anom Besari yang menikah dengan putri keturunan dari Bupati Madiun. Akan tetapi Kyai Santoso Anom wafat pada 1918 diusia yang masih muda dan meninggalkan 7 anak.

Kepemimpinan Pondok Gontor Lama pun akhirnya berakhir, Di kemudian hari, tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menghidupkan kembali Pondok Gontor Lama dengan memperbarui dan meningkatkan sistem serta kurikulumnya.

Setelah menuntut ilmu di berbagai pesantren tradisional dan lembaga modern, tiga orang putra Kyai Santoso Anom akhirnya kembali ke Gontor dan pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi SAW, mereka mengikrarkan berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Ketiganya dikenal dengan sebutan Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu:

Ahmad Sahal (1901–1977)

Zainudin Fananie (1908–1967)

Imam Zarkasyi (1910–1985)

Pada tanggal 12 Oktober 1958 bertepatan dengan 28 Rabi’ul Awwal 1378, Trimurti mewakafkan PMDG kepada Umat Islam. Sebuah pengorbanan kepemilikan pribadi demi kemaslahatan umat. Pihak penerima amanat diwakili oleh 15 anggota alumni Gontor (IKPM) yang kemudian menjadi Badan Wakaf PMDG.

Berdasarkan rentetan histori diatas dapat disimpulkan bahwa 

1. Islamisasi Ponorogo telah terjadi pada ratusan tahun yang lalu, dan ditandai dengan peninggalan bersejarah berupa masjid.

2. Salah satu upaya Islamisasi yang itu dengan adanya pengajar/kyai yang mumpuni dalam mengajarkan Islam dan secara intensif berada dalam tempat yang disebut dengan Pondok Pesantren. 

Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia dan lembaga pendidikan khas Indonesia yang mengajarkan ilmu ilmu keislaman (Iman, Islam, İhsan)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MASJID & MAKAM KUNCEN dan Sejarah Madiun dari Masa Mataram

Masjid dan Pondok di Josari yang menjadi tempat bersejarah

Masjid yang lebih tua dari Masjid Jami' Tegalsari ada disini . .