MASJID & MAKAM KUNCEN dan Sejarah Madiun dari Masa Mataram

 

MASJID & MAKAM KUNCEN dan Sejarah Madiun dari Masa Mataram

Papan Informasi Singkat (Doc. Istimewa)

 

Madiun, 8 April 2023/17 Ramadhan 1444

Masjid dan Makam Kuno Kuncen adalah salah satu situs sejarah masa islam di Kota madiun yang dibangun pada masa Bupati pertama Madiun Pangeran Timur atau Ronggo Jumeno (menjabat 1568-1590) Masjid Kuno Kuncen mempunyai nama rasmi Masjid Nur Hidayatullahi Nama asliny sebenarnya masih belum diketahui seperti halnya dengan tahun pendiran masjid ini namun jika melihat bentuk dan konstrukya sama dengan Masjid Demak Sedangkan Makam merupakan tempat bersemayam atau petilasan Ronggo Jumeno dan keluarga keturunan serta kerabat dekatnya (sentono). Selain Ronggo Jumeno terdapat pula makam bupati-bupati penerus lainnya yang pada umumnya bergelar Mangkunegoro. Di area Masjid dan Makam terdapat beberapa artefak kuno seperti batu candi dan tempayan batu berinskripsi arab serta sumber mata air yang disebut Sendang Tundung Madiun atau Panguripan Kelurahan Kuncen yang menjadi lokasi situs ini dahulu merupakan Desa Perdikan (Desa Bebas Pajak), Sejarahnya diawali ketika Kiai Reksa Gati dari Demak yang membangun Kelurahan Sogaten. Pada 18 Juli 1568 Sultan Pajang mengangkat adik iparnya Ronggo Jumeno sebagai Bupati Purabaya (nama lama Madiun) dan mengambil alih tugas Kiai Reksa Gati, Ronggo Jumeno kemudian memindahkan pusat kabupaten dan Sogaten ke Wonorejo. Runtuhnya Pajang membuat Kasultanan Mataram dibawah Panembahan Senopati melakukan ekspansi ke Purabaya. Menjelang pecah perang antara Purabaya dengan Mataram pada 16 November 1590, Ronggo Jumeno menyerahkan kepemimpinan kepada putrinya, Retno Dumilah. Namun Kegigihan Retno Dumilah tidak mampu mempertahankan Purabaya dari serangan Mataram. Sebagai simbol kemenangan, Senopati mengganti nama Purabaya menjadi Madiun pada 16 November 1590, Tidak hanya itu Senopati juga menetapkan lokasi yang menjadi tempat peperangan menjadi perdikan (desa bebas pajak) dan memakamkan semua yang gugur di medan perang di desa tersebut. Juri Kun Makam atau Kuncen juga ditunjuk oleh Senopati. Juru Kunci Makam saat itu juga bertindak sebac pemimpin desa. Pemimpin Desa yang pertama bernama Kiai Grubug. Makamnya juga berada makam Kuncen.

Masjid Kuncen / Nur Hidayatullahi

Setelah beberapa kali meniatkan diri untuk bisa berkunjung ke Masjid yang memiliki sejarah alhamdulillah penulis berkesempatan secara langsung melaksanakan shalat subuh berjama'ah. Dengan suasana masjid dan konstruk khas Jawa / Demak menambah keunikan masjid ini, kemudian jendela Masjid secara alami terbuka sehingga angin alam secara langsung menyejukkan dalam masjid ketika jama'ah berada didalam.



 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masjid dan Pondok di Josari yang menjadi tempat bersejarah

Masjid yang lebih tua dari Masjid Jami' Tegalsari ada disini . .