Masjid dan Pondok di Josari yang menjadi tempat bersejarah
![]() |
| Masjid Daarul Muttaqin |
Josari, Ahad 9 April 2023/ 18 Ramadhan 1444
Ponorogo bagian
selatan, tepatnya di kecamatan Jetis. Konon, menurut cerita dari beberapa tokoh
dan sesepuh yang berada di Desa Josari, awal masuknya agama Islam di Desa
Josari berkisar pada pertengahan abad ke -17. Menurut beberapa cerita, orang
yang pertama kali mensyiarkan agama Islam di Desa Josari adalah seorang yang
berasal dari Jepara, yang bernama Imam Asy’ari. Beliau merupakan santri Kyai
Donopuro yang berada di dukuh Setono Desa Tegalsari. Kemudian, beliau diutus
oleh Kyai Donopuro untuk mensyiarkan agama Islam di Desa Josari dengan di
bekali masjid.
Dikarenakan
pada saat itu, di Desa Josari belum ada masjid dan sebagian besar masyarakatnya
masih beragama Hindu. Dalam syiarnya, beliau kemudian mendirikan pondok
pesantren yang awalnya hanya memiliki beberapa santri. Belum sampai semua
masyarakat Desa Josari memeluk agama Islam, beliau dipanggil oleh ayahnya untuk
pulang ke Jepara karena ada kepentingan pemerintahan. Kemudian syiar agama
Islam di Desa Josari diteruskan oleh seseorang yang bernama Ustad, beliau
adalah menantu dari Kyai Imam Asy’ari yang juga santri Kyai Donopuro dari
pondok Setono Tegalsari .
Seiring
berjalanya waktu, pada periode kepemimpinan Kyai Ustad akhirnya masyarakat
Josari mulai banyak yang memeluk agama Islam. Sehingga Masjid yang dibawa oleh
Kyai Imam Asy’ari dari Setono Tegalsari tidak mencukupi untuk menampung para
jamaah. Akhirnya, masjid tersebut di boyong ke Desa Wonoketro. Setelah itu Kyai
Ustad membangun masjid baru yang lebih besar pada tahun 1643 M. Menurut cerita
masjid tua Josari ini sudah masuk studi kelayakan yang dilakukan oleh Dinas
Purbakala Provinsi Jawa Timur pada tahun 2003 yang menyatakan bahwa masjid
tersebut masuk dalam kategori Cagar Budaya Nasional sehingga perlu sekali untuk
dilestarikan.
Selain
dijadikan pusat peribadatan oleh masyarakat Josari masjid tua ini juga di
jadikan pusat pendidikan. Disekitar masjid dulu terdapat pondok, santri-santri
yang mukim datang berbagai daerah seperti Sunda, Madura, Trenggalek, dan
lainnya. Salah satu pendiri pondok modern Gontor yaitu Kyai Imam Zarkasi juga
pernah menjadi santri di pondok yang ada di Desa Josari ini.
Masjid Daarul
Muttaqien merupakan bangunan masjid yang sangat kokoh. Kayu yang di pakai untuk
bangunan masjid Daarul Muttaqien adalah kayu jati, yang didapatkan dari hutan
belantara tepatnya di Desa Demangan. Dalam mendapatkanya Kyai Ustad tidak
menggunakan alat bantu apapun, Tetapi hanya menggunakan tangan kosong. Setelah
itu kayu yang didapat dibawa langsung ke Desa Josari tanpa menggunakan alat
bantu angkut apapun. Dan akhirnya berdirilah masjid Jami’ Josari (Darul
Muttaqien), jika dilihat dari segi bangunanya banyak dipengaruhi oleh budaya
Hindu – Jawa. Yang bertujuan menarik minat masyarakat yang beragama Hindu untuk
memeluk Islam.
Alhamdulillah penulis dapat melaksanakan Safari Ramadhan ke 18 ke Masjid Daarul Muttaqin Josari, Jetis, Ponorogo
Sumber : https://ejournal.insuriponorogo.ac.id/index.php/qalamuna/article/download/133/125
Alamat: 3FGF+445, Josari Wetan, Josari, Kec. Jetis, Kabupaten
Ponorogo, Jawa Timur 63473


Komentar
Posting Komentar