Islamisasi ke Ponorogo oleh Raden Bathoro Kathong pada Abad 14 dan ternyata malam 15 adalah malam bersejarah untuk Ponorogo

 

 

Berbicara mengenai Islam berarti berbicara tentang sejarah dan peradabannya. Setelah Nabi Muhammad SAW diutus sebagai Rahmatan lil Alamin untuk menyampaikan risalah islam. Dalam jangka waktu kurang dari 13 tahun setelah kenabian Islam telah sampai ke berbagai penjuru di negeri Arab dan Afrika. Puncaknya setelah Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah (Yastrib) ekspedisi perluasan penyebaran agama Islam telah didengan dua kekuatan besar yaitu Romawi dan Persia.

Begitupula kabar Islam sampai ke bumi Nusantara menurut catatan sejarah Islam telah sampai ke Nusantara (Indonesia) pada abad ke 7 masehi artinya pada awal tahun hijriah. Hal tersebut ditandai dengan Beberapa sejarawan menyebut Islam pertama kali memasuki wilayah di Indonesia pada abad ke-7. Bukti sejarah masuknya agama Islam di Indonesia dimulai pada abad ke-7 Masehi ditunjukkan oleh berita China dari zaman Dinasti Tang. Catatan tersebut menerangkan bahwa pada 674 M, di pantai barat Sumatera telah terdapat perkampungan bernama Barus atau Fansur, yang dihuni oleh orang-orang Arab yang memeluk Islam. Hal ini juga didukung oleh keterangan para pedagang Muslim Arab dan Persia, yang telah memiliki hubungan dagang dengan Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Sangat mungkin bahwa melalui kontak bisnis, terjadi pula kontak budaya dan agama antara masyarakat lokal dengan pedagang Muslim.[1]

Sedangkan di Jawa bukti yang memperkuat dugaan bahwa Islam mulai berkembang di Pulau Jawa pada abad ke-11 adalah ditemukannya nisan Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, yang berangka tahun 1082 M.

Adapun puncak nya penyebaran pada abad 13 – 14 yang kemudian para penyebar agama Islam di Jawa di sebut Wali. Yang memiliki majelis berisikan 9 orang wali sehingga kemudian disebut wali songo. Dari sinilah kemudian melahirkan seorang murid yang menjadi Sultan pertama yang mendirikan kerajaan Islam pertama dijawa yaitu kesultanan Demak. Salah satu visi misinya yaitu mengislamkan wilayah wilayah dibawah kekuasaannya yang masih menganut kepercayaan lama. Salah satunya yaitu Wilayah Wengker (Ponorogo). Maka diutuslah seorang ksatria bernama Raden Joko Piturun atau Bathara Kathong.


(Doc. Masjid Jami’ Bathara Kathong)

Bathara Katong (JawaBatoro Katong / ꧋ꦧꦠꦫꦏꦠꦺꦴꦁ) adalah pendiri Kabupaten Ponorogo dan juga merupakan adipati pertama di Ponorogo. Bathara Katong merupakan utusan Kesultanan Demak untuk menyebarkan Islam di Ponorogo. Bathara Kathong merupakan adik dari Raden Patah yang merupakan pendiri Kesultanan Demak yang juga putra dari Raja terakhir Kerajaan Majapahit Prabu Brawijaya V / Bhre Kertabhumi dari Istrinya yang beragama Islam yang berasal dari Negeri Champa.

Berawal dari Sunan Kalijaga, bersama muridnya Kiai Muslim (atau Ki Ageng Mirah) mencoba melakukan investigasi terhadap keadaan Ponorogo, dan mencermati kekuatan-kekuatan yang paling berpengaruh di Ponorogo. Dan mereka menemukan Demang Kutu sebagai penguasa paling berpengaruh saat itu. Demi kepentingan ekspansi kekuasaan dan Islamisasi, penguasa Demak mengirimkan seorang putra terbaiknya yakni yang kemudian dikenal luas dengan Bathara Katong dengan salah seorang santrinya bernama Selo Aji dan diikuti oleh 40 orang santri senior yang lain.

Raden Katong akhirnya sampai di wilayah Wengker, lalu kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman, yaitu di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan. Saat Bathara Katong datang memasuki Ponorogo, kebanyakan masyarakat Ponorogo adalah penganut Hindu, Buddha, animisme dan dinamisme. Bathara Katong kemudian menjadi Adipati di Ponorogo. Menurut Handbook of Oriental History hari wisuda Bathara Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo yaitu pada hari Ahad Pon tanggal 1 Bulan Besar tahun 1418 Saka, bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 1496 atau 1 Dzulhijjah 901 Hijriyah. Selanjutnya tanggal 11 Agustus ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.[2]

Pada moment malam 15 Ramadhan ini penulis berkesempatan untuk napak tilas ke wilayah yang sebelumnya menjadi pusat pemerintahan Raden Bathoro Kathong. Dan berdasarkan sumber Asal-usul nama Ponorogo bermula dari kesepakatan dalam musyawarah bersama Raden Bathara KatongKiai MirahSeloaji, dan Jayadipa pada hari Jumat saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah katongan sekarang). Dalam musyawarah tersebut disepakati bahwa kota yang akan didirikan dinamakan Pramana Raga yang akhirnya berubah menjadi Panaraga (Ponorogo).[3] Wallahu A’alam

(Loc. -7.850270, 111.497398)

 [1] Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/stori/read/2021/12/21/120000879/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-di-indonesia.

Penulis : Verelladevanka Adryamarthanino

Editor : Widya Lestari Ningsih Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6

Download aplikasi: https://kmp.im/app6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MASJID & MAKAM KUNCEN dan Sejarah Madiun dari Masa Mataram

Masjid dan Pondok di Josari yang menjadi tempat bersejarah

Masjid yang lebih tua dari Masjid Jami' Tegalsari ada disini . .